Kamis, 07 Februari 2013

GLOBAL WARMING ( BANJIR )

BANJIR
Di saat sekarang ini kita ketahui bahwa banjir telah banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan dapat di katakan berkelimpahan air. Sementara di daerah lain di Indonesia mengalami kekeringan. Kedua hal tersebut terjadi secara bersamaan dalam waktu yang sama. Terlebih lagi saat sekarang ini musim hujan yang terjadi di beberapa daerah tetapi tidak secara merata. Misalnya saja di suatu kota contohnya Yogyakarta, hujan yang turun secara tidak merata tersebut sangat terasa sekali, karena di beberapa lokasi terjadi hujan yang sangat kebat sekali tetapi di beberapa lokasi yang berdekatan dengan lokasi yang terjadi hujan lebat tadi, di lokasi tersubut cerah sekali. Ini pertanda bahwa dampak dari Global warming sudah dapat kita rasakan sendiri. Lingkungan sudah semakin rusak, dan memang masalah lingkungan sudah menjadi perhatian utama bagi seluruh dunia. Tetapi pada kenyataannya kebanyakan orang hanya bisa mengomentari saja tapi mempraktekannya tidak sama sekali. Lihatlah bumi kita menangis, bumi kita sedih, seharusnya kita bersama - sama memperbaiki bumi kita. Lingkungan semakin kotor sehingga banyak terjadi banjir yang dikarenakan oleh kebodohan manusia yang tidak bisa menjaga lingkungan. Padahak dipikir secara logika membuang sampah pada tempatnya dan melakukan pembersihan lungkungan itu adalah hal yang mudah. Maka dari saya tekankan jangan menganggap enteng terhadap sesuatu yang kadang kita anggap sepele. Kita ketahui banjir semakin banyak terjadi di Indonesia, dan permasalah utama yaitu karena sampah. contohnya banjir yang terjadi di Jakarta.

Masalah Banjir di Jakarta
Banjir benar-benar telah melanda Jakarta. Bila kemaren Jum'at 2 Febuari 2007 Jakarta dinyatakan Siaga III, maka pada hari ini telah dinyatakan Siaga I dalam menghadapi masalah banjir. Banjir kali ini mengingatkan kita pada banjir pada tahun 2002 yang lalu. Siklus banjir lima tahunan telah datang.

Dengan banjir ini, berbagai upaya mengatasi masalah banjir yang telah dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun (2002 - 2007) seakan tidak ada artinya. Berbagai pernyataan yang muncul sebelumnya tentang kesiapan menghadapi banjir, telah terbukti hanya isapan jempol belaka.

Persoalan banjir di Jakarta tidak mungkin diselesaikan oleh Jakarta sendiri. Sama-sama kita ketahui bahwa air yang datang melanda Jakarta datang dari Bogor. Kenyataan ini adalah hal yang tidak mungkin di nafikan. Setiap musim hujan tiba, volume air yang datang dari Bogor tidak sanggup ditampung oleh sistem aliran sungai yang melintas di Jakarta. Keadaan ini terekspresikan dengan hadirnya Banjir.

Berbagai ide untuk menyelesaikan masalah banjir di jakarta ini sebenarnya telah dikemukakan. Perlunya upaya yang terpadu untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta juga telah diungkapkan sejak lama oleh para ahli. Tetapi semua usulan yang diajukan itu kandas.

indosiar.com, Jakarta - Banjir seolah-olah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat ibukota. Karena setiap musim penghujan terutama dengan siklus 5 tahunan, masyarakat ibukota yang tinggal di daerah rawan banjir harus sudah siap-siap menerima akibat banjir dengan segala dampaknya. Yang paling menyedihkan lagi dampak dari banjir dari tahun ke tahun tidak semakin kecil tapi justru semakin meluas.
Masalah Banjir di Wilayah DKI Jakarta dan Penanganannya menjadi topik Halo Polisi kali ini dengan nara sumber Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Drs. Adang Firman.

Bagaimana penanganan masalah banjir di ibukota ?
Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, banjir bukanlah masalah yang sederhana. Sangat sulit dan berdimensi sangat luas. Artinya ada pekerjaan di hilir dan ada pekerjaan di hulu seharusnya. Nah yang terjadi sekarang pekerjaan hanya ada di hilir yakni Jakarta nya.

Secara geografis Jakarta ini dialiri 13 sungai yang datang dari selatan, Bogor, Puncak dan Cianjur. Jadi menurut Sutiyoso, jangan menyalahkan pemerintah Bogor kalau terjadi banjir di Jakarta.

Sekarang di hilir sendiri (Pemda DKI) tidak bisa maksimal menangani masalah banjir karena terkendala masalah anggaran. Jadi dalam menanggulangi banjir dari konsep Belanda yang kemudian disempurnakan oleh Jepang adalah membangun kanal (seperti tapal kuda yang mengelilingi Jakarta. Dengan maksud, 13 sungai yang mengalir ini bisa ditangkap oleh kanal barat dan kanal timur.

Didalam mengantisipasi banjir setiap tahun ada tiga kegiatan yakni kegiatan pra banjir (sebelum banjir) melibatkan BMG, bagaimana menguji sistem pemandu (gladi posko) serta gelar pasukan (unsur Pemda, TNI/Polri/PMI) sambil menggelar peralatan yang Pemda miliki.

Banjir yang selalu terjadi di Jakarta selain akibat curah hujan tinggi dan arus air dari hulu juga karena belum selesainya Banjir Kanal Timur yang bisa menampung 13 aliran sungai di Jakarta diarahkan ke laut.

Sutiyoso mengatakan, penanganan banjir di Jakarta baru akan tuntas bila pembangunan Banjir Kanal Timur usai meskipun ia mengeluhkan pemotongan anggaran banjir kanal pada APBD 2007 oleh DPRD Jakarta.

Menurut Sutiyoso, ada sekitar 78 titik yang selalu tergenang air. Dan bagi kebanyakan warga Jakarta kata bang Yos, sudah sangat familiar dengan banjir. Jadi pada saat datang banjir pun mereka banyak yang tidak mau dievakuasi. Jumlah korban banjir di Jakarta cukup signifikan dan ini menjadi masalah.

Hujan diperkirakan masih akan terus terjadi di Jakarta hingga bulan Maret mendatang. Jadi Pemda akan membangun posko berskala besar yang dipertanggungjawabkan oleh satuan TNI/Polri termasuk Polda yang menangani Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

Untuk kedepan Pemda akan membangun rumah susun massal dan ini salah satu program prioritas serta membangun banjir kanal timur untuk warga yang tinggal di titik rawan banjir.

Pemda DKI juga akan melakukan pembenahan kembali bekerjasama dengan pihak terkait pasca banjir. Kawasan yang letaknya rendah seharusnya tidak boleh dibangun karena berpotensi banjir dan mengurangi daerah resapan air. Untuk mengantisipasi banjir dimasa depan dengan memperhatikan semua aspek.

Sementara menurut Adang Firman, dalam rangka mengatasi bencana banjir bukan hanya Polda, tetapi juga satuan-satuan lain juga ikut serta. Pada prinsipnya dari kepolisian selain melaksanakan tugas pokok Polri, yakni menyelamatkan penduduk (Jiwa) dan harta benda milik warga.

Pengamanan wilayah di Jakarta dan pengaturan lalu lintas yang menjadi kacau akibat sejumlah ruas jalan terendam air telah dilakukan sejak hari pertama banjir Jumat pekan lalu.

Sosialisasi tentang peran-serta masyarakat dalam menanggulangi masalah banjir perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan serius. Masyarakat perlu disadarkan bahwa tanpa peran-serta mereka, upaya menanggulangi banjir tidak akan efektif.

Untuk tugas pengamanan dan pengaturan lalu lintas ini Adang mengaku telah mengerahkan antara 12 hingga 14 ribu personilnya setiap hari secara fluktuatif tergantung kebutuhan.

Kepolisian bekerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk mengamankan perumahan milik warga yang menjadi korban banjir yang ditinggalkan ke tempat pengungsian. Petugas terus melakukan patroli siang dan malam dengan menggunakan peralatan jetsky ke tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau melalui perahu karet dan rakit.

Ketinggian permukaan wilayah DKI Jakarta yang begitu rendah dan hampir rata dengan permukaan air laut juga menjadi salah satu penyebab banjir, ditambah lagi dengan kondisi air pasang sehingga aliran sungai yang landai di sana sulit masuk ke laut.

Semua pihak diajak untuk berupaya mencegah bencana lingkungan dengan sejumlah langkah nyata, mulai dari hal-hal sederhana dan kecil. Sebab, bencana bukan gejala alam semata, tetapi sebagian karena ulah manusia yang kurang bertanggung jawab.

Dalam kerangka besar, pemerintah akan terus melakukan langkah-langkah penegakan hukum terhadap pelaku pembabatan hutan dan pencemaran lingkungan.


sumber: http://ray07blogqoe.blogspot.com/2008/11/bencana-banjir.html

0 komentar:

Poskan Komentar